DIALOG BERITA, Tanimbar – Sejumlah warga Kepulauan Tanimbar menyuarakan kekecewaan terhadap pemerintah daerah terkait proyek strategis nasional Blok Masela. Mereka menilai pemerintah mulai menjauh dari peran utamanya sebagai pelindung dan penyambung aspirasi rakyat.
Dalam beberapa hari terakhir, dialog publik yang menghadirkan Gubernur Maluku justru memantik kritik. Alih-alih menjadi ruang terbuka, sebagian warga merasa pandangan kritis mereka dianggap sebagai hambatan pembangunan. “Rakyat bukan pengganggu. Kami hanya ingin didengar,” ungkap seorang tokoh masyarakat yang enggan disebutkan namanya.
Proyek Blok Masela selama ini diproyeksikan sebagai motor penggerak ekonomi kawasan timur Indonesia. Namun, masyarakat Tanimbar mempertanyakan kesiapan sosial, dampak lingkungan, serta posisi masyarakat lokal dalam pusaran investasi besar. Bagi mereka, pembangunan bukan sekadar angka pertumbuhan ekonomi, melainkan menyangkut identitas, ruang hidup, dan masa depan generasi berikutnya.
Pengamat kebijakan publik menilai pemerintah daerah semestinya berdiri sebagai payung dan teropong—melindungi rakyat sekaligus membaca arah masa depan. “Pemimpin daerah harus tegas, tetapi juga bijak. Rakyat adalah prioritas, bukan alat politik atau sekadar jembatan kepentingan,” ujar seorang analis regional.
Kritik ini memunculkan kekhawatiran bahwa proyek besar seperti Blok Masela berpotensi diseret ke dalam kepentingan elite jika tidak diimbangi dengan transparansi dan partisipasi publik. Situasi ini menjadi ujian nyata bagi kepemimpinan daerah di Kepulauan Tanimbar: apakah pemerintah akan merangkul aspirasi atau justru mempersempit ruang dialog.
Masyarakat Tanimbar menegaskan bahwa mereka tidak menolak pembangunan. Mereka hanya menuntut dilibatkan, dihargai, dan dijadikan subjek utama dalam setiap kebijakan yang menyangkut tanah serta masa depan mereka. Jika suara rakyat terus diabaikan, kepercayaan publik bisa terkikis dan fondasi pembangunan ikut rapuh. Sebaliknya, bila pemerintah membuka ruang dialog yang jujur dan inklusif, Blok Masela berpotensi menjadi titik balik kesejahteraan yang berkeadilan bagi seluruh masyarakat Tanimbar. (Randy Fenan)
















