DIALOG BERITA – Di ruang publik yang semakin ramai oleh wajah-wajah yang gemar dipoles dan nama-nama yang rajin dipanggil sendiri, OK Rasyid justru hadir dengan cara yang berlawanan. Ia tidak berlomba menjadi sorotan. Ia tidak memungut tepuk tangan. Ia berdiri, sederhana, tanpa upaya terlihat hebat — dan justru karena itulah ia terlihat.

Pria enerjik ini tampil menarik bukan karena ingin menarik. Ia tidak berlaku seperti kebanyakan figur publik yang sibuk menyesuaikan diri dengan selera panggung. OK Rasyid memilih menjadi dirinya sendiri.
Di Asahan, tempat para bintang berlalu-lalang membawa kilau masing-masing, ia hadir sebagai sosok yang berbeda bukan karena sensasi, melainkan karena konsistensi.
Namanya — OK Rasyid — bukan sekadar label. Ia adalah penanda sikap. Ia tidak dibangun untuk dielu-elukan, tetapi untuk dipanggil ketika ada urusan yang tak beres. Ketika suara warga tersangkut. Ketika keluhan kehilangan pintu.
Ia dikenal sebagai penampung keluhan konsumen. Peran yang sunyi dan sering kali disalahpahami. Orang datang dengan nada tinggi, wajah lelah, bahkan emosi yang sudah lebih dulu tiba.
Namun ia tetap membuka ruang. Duduk, mendengar, menimbang. Tidak memotong. Tidak menghakimi.
Ia paham, keluhan bukan semata soal barang atau layanan — sering kali itu tentang harga diri yang terabaikan.
Tanggung jawab itu ia emban bukan sebagai jabatan, melainkan sebagai komitmen. Bagi OK Rasyid, mendengar adalah bentuk paling awal dari keadilan.
Wajah Tenang, Prinsip Tegak
Bagi yang belum mengenal dekat, OK Rasyid kerap disalahartikan. Wajahnya yang tenang sering dibaca cuek. Sikapnya yang hemat kata dianggap dingin. Padahal, ia hanya tidak gemar basa-basi kosong.
Begitu interaksi terjalin, barulah orang menyadari: ia ramah, hangat, dan pogot — tegas tapi bersahabat. Ia tahu kapan harus keras pada masalah, dan kapan harus lembut pada manusia.
Ketika seseorang datang membawa cerita ketidakadilan, nadanya berubah. Fokusnya menguat. Ia menyambut bukan sebagai pejabat, melainkan sebagai sesama.
Masalah demi masalah menghampiri — ada yang sederhana tapi melelahkan, ada pula yang rumit karena diselimuti kepentingan. Namun kejenuhan jarang tampak di wajahnya. Ia membaca, mengkaji, berdiskusi, menelusuri celah solusi.
Tidak selalu cepat. Tidak selalu menang.
Namun ia terus berjalan. Baginya, perjuangan bukan soal kecepatan, melainkan ketahanan.
Ia pun bukan tipe yang mudah tersinggung. Bahkan saat berhadapan dengan wajah-wajah baru di dunia publik — lebih muda, kadang sebaya anaknya — yang bercanda tanpa saring dan etika. Alih-alih membalas dengan amarah, ia memilih bahasa yang nyaman, diselipi canda.
Humor baginya bukan pelarian, melainkan kecerdasan emosional.
Berdiri Ketika Kekuasaan Tak Bersahabat
Sedikit yang tahu — atau sengaja dilupakan — bahwa keteguhan OK Rasyid bukanlah produk hari ini. Ia ditempa sejak awal 2000-an, di masa ketika keberanian tidak diberi panggung dan sikap berbeda sering dibayar mahal.
Pada era itu, OK Rasyid dikenal sebagai salah satu Tokoh Gemkara Wilayah Asahan Bawah. Ia berada di garis depan arus pemikiran dan gerakan yang mendukung pemekaran Kabupaten Asahan dan lahirnya Kabupaten Batu Bara. Sebuah perjuangan yang tidak romantis, tidak aman, dan jauh dari tepuk tangan.

Semua elemen berdiri berlawanan dengannya.
Kekuasaan Bupati kala itu mutlak berada di seberang.
Tekanan datang dari berbagai arah.
Ancaman tidak selalu berbentuk kata — kadang berupa sunyi yang disengaja.
Namun OK Rasyid tidak mundur.
Di saat banyak memilih diam demi aman, ia justru berdiri.
Di saat sebagian berbelok mengikuti arus, ia memilih tetap lurus.
Ia tahu, pemekaran bukan sekadar garis peta, melainkan soal keadilan ruang hidup dan pelayanan bagi masyarakat Asahan bawah yang lama terpinggirkan.
Karena sikap itulah, pada masa itu ia dikenal sebagai tangan kanan OK Arya, Bupati pertama yang menang mutlak.
Bukan tangan yang gemar menunjuk, tetapi tangan yang bekerja.
Bukan tangan yang mencari sorotan, melainkan yang menopang dari belakang.
Ia berdiri bukan karena kekuasaan, melainkan karena keyakinan.
Dan justru karena itu, namanya bertahan — tidak tergerus waktu.
Putra Melayu yang Tak Menawar Prinsip
OK Rasyid dikenal sebagai salah satu putra Melayu Asahan yang berani dan konsisten. Keberaniannya tidak meledak-ledak, melainkan tenang dan terukur — lahir dari keyakinan, bukan dari amarah.
Baginya, benar adalah benar.
Dan ketika sesuatu telah diyakininya benar, ia tidak akan mundur seinci pun.
Bukan karena keras kepala, melainkan karena ia paham: mundur dari kebenaran hari ini sering kali menjadi penyesalan esok hari.
Sikap itu menjelaskan mengapa, sejak masa gemkara hingga hari ini, jejaknya selalu berada di jalur yang sama. Konsisten. Tegak. Tidak berbelok demi kenyamanan sesaat. Ia tahu, menjadi putra daerah bukan soal asal-usul, melainkan keberanian memikul akibat dari sikap yang diambil.
Bukan Tokoh, Tapi Selalu Hadir
Dalam urusan membela kepentingan warga — baik kelompok kecil yang kerap tak terdengar, maupun masyarakat luas yang suaranya sering diredam — OK Rasyid selalu berdiri.
Selama ada ketidakadilan, ia merasa terpanggil.
Hinaan datang. Makian menyusul. Jebakan liar kerap ditebar. Namun ia tetap melangkah. Bukan karena kebal, melainkan karena sadar: perjuangan jarang memberi karpet merah.
Ia tidak pernah ingin disebut tokoh. Ia menolak kata itu dengan senyum tipis. Baginya, gelar sering kali menciptakan jarak antara manusia dan kenyataan.
Ia memilih posisi yang lebih jujur: hadir, berdiri, dan siap berhadapan.
Ia tidak menunggu momen besar untuk bertindak. Ia hadir di saat-saat kecil yang sering diabaikan. Ketika orang lain sibuk merawat citra, ia sibuk merawat urusan.
Dan justru karena itulah, namanya terus disebut — bukan karena ia menginginkannya, melainkan karena ia dibutuhkan.
OK Rasyid mengajarkan satu hal yang sederhana namun langka:
bahwa menjadi berarti tidak selalu harus berkilau,
bahwa keberanian bisa tenang,
dan bahwa keteguhan tidak harus berisik.
Di Asahan,
“di antara keramaian para bintang,
ia tetap berdiri dengan caranya sendiri — tidak berkilau, tetapi selalu terlihat” (**)
















