Oleh : Pak Sanif
Suatu pagi Sri Sultan pulang dari Kaliurang dengan mengendarai mobil Jeepnya sendiri.
Sampai di sekitar Pakem, Sleman beliau di stop oleh perempuan tua, seorang bakul beras.
Sri Sultan pun segera memberhentikan mobilnya, seraya menyapa dengan ramah,
“Ada apa mbok?”
“Tolong mas, angkatkan beras ini saya mau ke Jogja” ujar si mbok bakul beras.
Dengan senyum-senyum Sri Sultan turun dan mengangkat beras itu ke dalam mobilnya sendirian.
Tanpa dipersilahkan si mbok bakul beras itu pun segera membuka pintu mobil dan masuk lalu duduk di samping sopir, sebagaimana kebiasaannya setiap hari dengan sopir-sopir angkutan yang lain.
Sri Sultan menyambut si mbok bakul beras dengan ramah. Bahkan selama di perjalanan Sri Sultan tekun mendengarkan si mbok bakul beras berceritera kesana kemari, sambil makan sirih.
Tanpa terasa sampailah kendaraan yang disopiri seorang “Raja” ini di depan Pasar Kranggan, Jogjakarta.
Si mbok pun bergegas menyuruh Sri Sultan menurunkan beras itu. Dengan tetap menunjukkan sikap yang santun Sri Sultan pun menurunkan beras itu dengan baik.
Kini tiba gilirannya si mbok bakul beras mencari uangnya yang dibundelan selendang atau ujung setagennya.
Ketika si mbok mengulurkan uang ongkos transportnya, sang sopir istimewa tadi menolak dengan halus, “Terimakasih mbok, tidak usah”. Kemudian mobil pun segera meluncur, berlalu meninggalkan si mbok bakul beras itu.
Apa yang terjadi dengan si mbok bakul beras? Tanpa dia sadari kejadian itu disaksikan oleh orang-orang di sekitarnya dengan penuh keheranan dan tanda tanya.
Si mbok bakul beras itu ngomel-ngomel karena sopir “Istimewa” tadi menolak bayaran, “Sopir ini bagaimana toh? Lah wong dikasih ongkos kok ndak mau, eeh malah langsung bablas pergi. Kalau kurang bayarane mbok yao ngomong, apa dikira saya ndak punya uang poh?”
Ketika sedang sibuk ngomel, datanglah seorang Polisi di Pos Jaga yang sejak tadi memperhatikan kejadian itu. Polisi itu menghampiri si mbok bakul beras seraya bertanya,
“Ada apa mbok, pagi-pagi kok sudah marah-marah?”
Dengan rasa kesal si mbok menjawab, “Itu tadi lho pak, Pak Sopir tadi kok malah nylonong saja, ndak mau saya bayar ongkosnya. Apa karena kurang bayarannya makanya terus pergi begitu saja? Saya kan gak enak hati, malu sama orang-orang yang jualan di sini. Pikirnya saya mung golek gratisan!”
Pak Polisi termangu-mangu mendengarkan keluh kesah si mbok bakul beras seraya bertanya, “Si mbok tau siapa sopir yang si mbok tumpangi tadi?”
Simbok tidak menjawab, tapi hanya menggelengkan kepala. Lalu Pak Polisi menjelaskan kepadanya, “Mbok, itu tadi bukan Sopir angkutan, tetapi Sinuwun Sri Sultan Hamengkubuwono. Lihat tadi mobilnya platnya AB 1”
Mendengar penjelasan Pak Polisi, spontan mbok bakul beras terperanjat, kaget bagaikan disambar geledek.
Kekagetan yang luar biasa yang tak pernah dialami sepanjang hidupnya, kemudian ia berteriak histeris, “Aduuuh Gustiiiii!”
Tak lama berselang badan si mbok bakul beras itu gontai dan jatuh pingsan.
Dia merasakan Raja junjungannya yang selama ini sangat dihormati, sangat dicintai, senantiasa diagung-agungkan, kenapa disuruh ngangkat beras.
Yang tak habis pikirnya lagi, kenapa beliau mau begitu saja disuruh-suruh, kenapa beliau tidak menolaknya, kenapa tidak marah.
Itulah yang menjadikan penyesalan mendalam si mbok bakul beras sehingga ia pingsan.
Hikmah di balik kisah ini : “Apakah dengan berbuat seperti itu Sri Sultan turun derajadnya? Apakah dengan berbuat seperti itu kecintaan rakyat Jogja terhadap Sri Sultan luntur? Apakah perbuatan Sri Sultan membantu orang kecil dan orang miskin, menjadi terhina?”
Tentunya jawabannya “Tidak!”. Sungguh bahwa mutiara sekalipun apabila dimasukkan ke dalam lumpur tetap akan bersinar cemerlang. Tak sedikitpun berkurang kadar dan nilainya.
Demikianlah kisah penuh inspirasi ini disajikan untuk menjadi pembelajaran bagi kita. Semoga bermanfaat.
Catatan : Tulisan ini disadur dari kisah yang tertuang dalam buku “Tahta Untuk Rakyat”. (Penulis adalah Wartawan Dialog Berita, tinggal di Asahan)
















