DIALOG BERITA, Jakarta — Kegiatan bakti sosial seperti donor darah selalu mendapat antusiasme tinggi dari masyarakat. Hal ini tak lepas dari kebutuhan akan ketersediaan darah yang terus-menerus dibutuhkan untuk menyelamatkan nyawa dalam berbagai situasi darurat.
Gereja, sebagai bagian dari masyarakat, turut ambil bagian dalam aksi kemanusiaan ini sebagai bentuk nyata pelayanan kepada umat. Seperti yang dilakukan oleh Gereja PDI Ketapang, Jakarta Pusat, yang menggelar kegiatan donor darah pada Sabtu pagi (8/11).
Salah satu panitia pelaksana menyampaikan bahwa kegiatan ini terbuka bagi siapa saja yang memenuhi syarat kesehatan.
“HB-nya harus normal, tekanan darah juga harus stabil. Secara umum harus sehat, tidak memiliki penyakit. Usia juga diperhatikan, meski kalau sudah terbiasa donor sejak muda, biasanya tetap aman,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa kegiatan donor darah ini sejalan dengan visi misi gereja dalam melayani umat dan sesama manusia.
“Selain ibadah, pelayanan kemanusiaan seperti ini adalah bagian dari misi gereja. Kalau darah kita sehat, tidak ada salahnya untuk rutin mendonorkan. Saya sendiri sudah lebih dari sepuluh kali donor. Rasanya ringan saja, karena sirkulasi darah jadi lancar,” tuturnya.
Ia berharap kegiatan ini dapat membantu Palang Merah Indonesia (PMI) dalam menyiapkan stok darah yang memadai.
“Harapannya, kita bisa membantu sesama yang membutuhkan. Gereja hanya berperan mendukung dan memfasilitasi, selebihnya ini soal kepedulian kita bersama,” pungkasnya.
Kegiatan donor darah yang digelar oleh Gereja PDI Ketapang ini juga menjadi ruang edukasi bagi jemaat dan masyarakat sekitar tentang pentingnya menjaga kesehatan dan berbagi kepada sesama. Melalui pendekatan yang hangat dan terbuka, panitia memberikan informasi seputar syarat donor, manfaat kesehatan, serta dampak sosial dari aksi ini. Tak jarang, peserta yang awalnya ragu menjadi termotivasi setelah melihat antusiasme dan semangat gotong royong dari para relawan.
Selain sebagai bentuk pelayanan, kegiatan ini juga mempererat hubungan antarjemaat dan memperkuat solidaritas lintas komunitas. Gereja tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga pusat kepedulian sosial yang aktif merespons kebutuhan nyata masyarakat. Dengan semangat kasih dan kemanusiaan, aksi donor darah ini menjadi bukti bahwa pelayanan rohani dapat berjalan seiring dengan aksi nyata yang menyelamatkan kehidupan. (Nanang/Supriyadi)
















