“Pak, saya nggak pernah nyangka hidup saya bisa berubah dalam tujuh hari. Dari anak kampung yang cuma ingin kerja di luar negeri, jadi korban perdagangan manusia.”
Dion duduk bersandar di kursi kayu, matanya menatap lantai. Di hadapannya, seorang pria paruh baya mengenakan kemeja lusuh, membawa buku kecil dan pena. Mungkin wartawan, mungkin relawan KBRI. Tapi Dion tak peduli siapa dia. Yang penting: ada seseorang yang mau mendengar.
“Saya berangkat dari Kisaran, Pak. Bersama dua teman sekampung. Katanya kerja admin di Kamboja. Gaji Rp12 juta, fasilitas lengkap. Kami percaya. Kami ingin keluar dari kampung, bantu keluarga.”
Ia berhenti sejenak, menelan ludah. “Waktu pamit, ibu saya peluk saya erat. ‘Jangan lupa salat, jangan lupa kabari Ibu,’ katanya. Saya cuma bisa angguk. Dalam hati, saya janji akan pulang bawa kabar baik.”
“Di Bandara Phnom Penh, kami disambut perempuan muda. Ramah. Urusan imigrasi lancar. Kami diberi visa wisata 30 hari. Kami kira itu izin kerja. Ternyata bukan.”
Dion tertawa kecil, getir. “Dari bandara, kami dikirim ke Sihanoukville. Di mobil travel, kami diberi nomor Kamboja, pulsa, makanan. Katanya tempat kerja kami ‘Gold Casino.’ Tapi itu bukan kantor, Pak. Itu penjara.”
Ia mulai bercerita lebih cepat, seolah ingin mengeluarkan semuanya.
“Gedungnya kayak rumah susun. Dijaga pria bersenjata, ada anjing penjaga. Kami dites mengetik. Saya dan Y gagal. Teman saya, X, diterima. Kami berdua dijual ke agen lain. Malam itu, kami tidur di homestay. Kamar sempit, kasur tipis, bau lembab. Saya mulai sakit.”
Pewawancara mengangguk pelan. Dion melanjutkan.
“Besoknya kami dibawa ke Bavet. Delapan jam perjalanan. Kota itu pusat penipuan digital, Pak. Kami gagal lagi. Saya makin drop. Asam lambung kambuh, demam. Tapi tetap dipaksa kerja.”
Ia menunjuk bekas luka di lengannya. “Saya disuntik infus sambil mengetik. Tiga botol. Jarum terakhir saya cabut sendiri. Darahnya muncrat. Tapi saya tetap diseret ke kursi.”
Pewawancara terdiam. Dion menatapnya, lalu berkata pelan, “Saya dijual seharga USD 2.000. Kontrak kerja delapan bulan. Jam kerja 15 jam sehari. Gaji Rp12 juta kalau target Rp75 juta tercapai. Kalau telat satu menit, dipotong USD 10.”
Ia tertawa lagi, kali ini pahit. “Kerja saya? Menyamar jadi perempuan. Bikin akun palsu. Merayu pria Indonesia agar transfer uang. Saya nipu orang, Pak. Saya dipaksa jadi penjahat.”
Dion menghela napas panjang. “Hari ketiga, saya muntah di depan komputer. Hari keempat, saya diseret, ditampar, dipukul. Hari kelima, saya disetrum. Otak saya kayak meleleh.”
Pewawancara berhenti menulis. “Lalu?”
“Malam takbiran, Pak. Saya cuma bisa berdoa. ‘Ya Allah, ijabah doa ibu saya. Saya ingin pulang.’ Itu saja.”
Ia tersenyum samar. “Esok paginya, keajaiban datang. Agen bawa kami ke Phnom Penh. Di hotel, saya dan teman dari Medan Tembung menyusun rencana. Jam 04.30, kami kabur. Lari pakai Google Maps.”
“Di jalan, kami kejar waktu. Nafas tersengal, kaki gemetar. Tuk-tuk pertama nolak dibayar pakai HP. Tuk-tuk kedua ngerti. Kami tunjuk lokasi KBRI. Sopirnya nggak minta bayaran.”
Dion menatap pewawancara. “Di gerbang KBRI, dua satpam berjaga. Saya bilang, ‘Kami dari Bavet, Pak. Disiksa. Mau pulang.’ Mereka buka pintu. ‘Kalian aman sekarang. Ini tanah Indonesia.’”
Ia terdiam. Lama. Lalu berkata pelan, “Dua minggu kami sembunyi. Agen masih ngintai. Kami lebih suka tidur di kursi besi KBRI daripada di hotel.”
Pewawancara menutup bukunya. “Dan sekarang?”
“Saya sudah pulang, Pak. Selasa, 30 April 2024. Dari Phnom Penh ke Kuala Lumpur, lalu Kualanamu. Saya berdiri di bawah langit Sumatera. Di tangan saya cuma satu tas kecil. Tapi di hati saya, ada satu keyakinan.”
Ia menatap langit. “Doa seorang ibu bisa menembus langit. Bahkan menyelamatkan anaknya dari neraka yang tak terlihat.”















