Oleh : Thoib Subhanto (Pak Sanif)
Prolog
DIALOG BERITA – Saya ingin memulai refleksi ini dengan mengenang kembali nasehat almarhum Ki Usman Sumantri, beberapa hari sebelum saya pamit akan hijrah ke Jogja sekitar pertengahan tahun 1990. Beliau berkata sembari menepuk bahu saya, “Tetaplah menjadi orang Tamansiswa di belahan bumi manapun engkau berada!”. Kini, selama 22 tahun sejak saya meninggalkan perguruan ini, nasehat tersebut masih tetap melekat dalam hati dan pikiran saya.
Satu kalimat kunci yang terkandung dalam nasehat almarhum tersebut adalah, “menjadi orang Tamansiswa!”. Dari kalimat kunci ini muncul sederet pertanyaannya, “seperti apa orang Tamansiswa yang dimaksudkan oleh almarhum?, mengapa beliau begitu mewanti-wanti agar kita tetap menjadi orang Tamansiswa di manapun kita berada?”.
Cukup lama saya berusaha menemukan jawaban pertanyaan itu, hingga sampailah pada satu jawaban yang tersimpul secara sederhana. “Orang Tamansiswa adalah mereka yang memiliki jiwa dan pikiran merdeka!” dan “hanya mereka yang merdeka jiwa dan pikirannya yang mampu beradaptasi dalam lingkungan apapun tanpa harus kehilangan jatidirinya, mereka juga memiliki daya tahan yang luar biasa tangguh terhadap hempasan gelombang jaman”.
Jawaban tersebut tidak semata-mata muncul begitu saja, saya mencoba mengkontemplasikan simpul sederhana itu melalui proses penempaan pengalaman-pengalaman dan pengetahuan-pengetahuan ketika dulu pernah berdinamika bersama beliau dan para pamong lainnya selama tiga tahun di perguruan ini. Belakangan saya menyadari bahwa perguruan ini ternyata telah memberikan kesempatan kepada siapa saja untuk menempa dirinya menjadi manusia merdeka, dan ternyata inilah yang menjadi tujuan dan cita-cita dasar dari Perguruan Tamansiswa.
Mengingat Kembali Pijakan Dasar Tamansiswa
Tamansiswa merupakan badan perjuangan kebudayaan dan pembangunan masyarakat yang menggunakan pendidikan dalam arti luas untuk mencapai cita-citanya. Bagi Tamansiswa, pendidikan bukanlah tujuan tetapi media untuk mencapai cita-cita perjuangan, yaitu mewujudkan manusia Indonesia yang merdeka. Tamansiswa mencita-citakan terciptanya pendidikan nasional, yaitu pendidikan yang beralas kebudayaan sendiri. Dalam pelaksanaannya pendidikan Tamansiswa akan mengikuti garis kebudayaan nasional dan berusaha mendidik angkatan muda di dalam jiwa kebangsaan.
Pendidikan Tamansiswa dilaksanakan berdasar Sistem Among, yaitu suatu sistem pendidikan yang berjiwa kekeluargaan dan bersendikan kodrat alam dan kemerdekaan. Dalam sistem ini setiap pendidik bertanggungjawab mengemban amanah pelayanan kepada anak didik tanpa mengenal batas waktu, sebagaimana orang tua yang memberikan pelayanan kepada anak-anaknya. Oleh karena itu para pendidik di Tamansiswa dikenal sebagai Pamong, sosok yang suka ngemong anak didiknya di dalam maupun di luar sekolah.
Sistem Among tersebut berdasarkan cara berlakunya disebut sebagai Sistem Tutwuri Handayani. Dalam sistem ini orientasi pendidikan adalah pada anak didik, yang dalam terminologi baru disebut student centered. Di dalam sistem ini pelaksanaan pendidikan lebih didasarkan pada minat dan potensi apa yang perlu dikembangkan pada anak didik, bukan pada minat dan kemampuan apa yang dimiliki oleh pendidik. Apabila minat anak didik ternyata akan ke luar “rel” atau pengembangan potensi anak didik di jalan yang salah maka pendidik berhak untuk meluruskannya.
Untuk mencapai tujuan pendidikannya, Tamansiswa menyelanggarakan kerja sama yang selaras antar tiga pusat pendidikan yaitu lingkungan keluarga, lingkungan perguruan, dan lingkungan masyarakat. Pusat pendidikan yang satu dengan yang lain hendaknya saling berkoordinasi dan saling mengisi kekurangan yang ada. Penerapan sistem pendidikan seperti ini yang dinamakan Sistem Trisentra Pendidikan atau Sistem Tripusat Pendidikan.
Ciri khas Pendidikan Tamansiswa adalah Pancadarma, yaitu Kodrat Alam (memahami dan meyakini eksistensi Sunatullah), Kebudayaan (mendayagunakan cipta, rasa dan karsa), Kemerdekaan (pengembangan karakter sebagai manusia merdeka), Kebangsaan (cinta tanah air dan keragaman suku-bangsa), dan Kemanusiaan (menjunjung tinggi hak azasi dan harkat-martabat kemanusiaan).
Menilik Realitas Hari Ini
Setelah berkontemplasi dengan berbagi pengalaman dan belajar terhadap bagaimana pijakan dasar Tamansiswa disiapkan sebagaimana diuraikan di atas, tiba gilirannya kini kita menilik realitas hingga hari ini, khususnya melihat potret faktual dari eksistensi perguruan Tamansiswa Kisaran.
Dari hasil diskusi gerilya yang saya lakukan dengan beberapa kawan alumni, beberapa pamong dan pelaku pendidikan di Tamansiswa, juga dari beberapa tokoh masyarakat dan warga sekitar kompleks perguruan Tamansiswa. Banyak pembelajaran yang saya peroleh dan jika dirangkum dalam satu benang merah, saat ini Perguruan Tamansiswa Kisaran sedang mengalami masa keprihatinan yang sangat mendalam dan membutuhkan support yang serius dari berbagai pihak.
Saat ini Perguruan Tamansiswa Kisaran telah ditinggalkan oleh masa-masa kejayaannya. Satu indikator keprihatinan yang paling mendalam saat ini adalah menurunnya social trust (kepercayaan masyarakat) terhadap eksistensi Tamansiswa. Faktanya bisa dilihat dari menurunnya jumlah perolehan siswa pada setiap tahun ajarannya. Melemahnya prestasi-prestasi yang dulu pernah dimiliki oleh perguruan ini. Kondisi ini semakin diperparah oleh munculnya pencitraan-pencitraan yang sangat tidak menguntungkan bagi Tamansiswa, dan lain sebagainya.
Quo Vadis Alumni Tamansiswa?
Sangat tidak bijaksana apabila potret keprihatinan Tamansiswa Kisaran hari ini disimpulkan sebagai akibat dari kegagalan satu pihak saja. Kalo boleh saya menyimpulkan, bahwa apapun kondisi yang dihadapi Tamansiswa Kisaran saat ini adalah tanggungjawab bersama, termasuk di dalamnya adalah para alumninya.
Ini adalah potret kegagalan kita bersama, oleh karena itu kegagalan ini harus kita jawab dan tanggungjawabi bersama-sama. Untuk dapat menjawabnya sangat dibutuhkan pikiran-pikiran yang jernih dan terbuka, kelapangan hati (legawa), kesiapan diri dan komitmen yang tulus untuk segera bangkit dan tidak berlama-lama berada dalam kondisi yang sangat memprihatinkan ini. Pepatah lama yang tepat untuk mewakili komitmen ini adalah : duduk sama rendah berdiri sama tinggi, dan ringan sama dijinjing, berat sama dipikul. Demikianlah seyogyanya kita!
Alumni sebagai bagian penting dari dinamika masyarakat dan perguruan, memiliki peran yang cukup strategis untuk turut mendorong kebangkitan Tamansiswa. Tidak ada pilihan lain bagi para alumni, kecuali segera merapikan barisan, menguatkan komitmen dan tanggungjawab bersama secara teroganisir.
Untuk merefleksikan komitmen ini, saya ingin meminjam nasehat salah seorang sahabat Rasulullah, Sayyidna Ali. Beliau mengatakan, “Kebaikan yang tidak terorganisir dengan baik akan dapat dikalahkan oleh kejahatan yang terorganisir dengan baik”. Maka dari itu, pilihan membangkitkan ghirah Tamansiswa Kisaran adalah pilihan yang sangat realistis bagi perguruan, alumni dan semua elemen masyarakat yang mencintai Tamansiswa untuk bersama-sama mendorong “Tamansiswa Bangkit!”.
Epilog
Di bagian akhir tulisan ini, saya ingin jujur mengatakan, meskipun kadangkala kejujuran itu teramat pahit, namun jangan silaf bahwa yang pahit itu acapkali menjadi obat yang sangat manjur. Realitas yang dihadapi oleh Tamansiswa Kisaran hingga hari ini adalah fakta di mana kita memang telah melupakan banyak hal dari nilai-nilai yang terkandung dalam pijakan-pijakan dasar Tamansiswa. Kita tidak tekun belajar dari sejarah, kita sudah melalaikan amanah dari tujuan dan cita-cita pendidikan di Tamansiswa. Oleh karenanya kini kita menjadi sangat lemah dan masyarakat pun sudah mulai “meninggalkan” Tamansiswa!
Bagi perguruan dan para alumninya, kondisi seperti ini semestinya dapat dijadikan momentum untuk segera bangkit dari keterpurukan. “Tamansiswa Bangkit!”, jargon ini diharapkan tidak sekedar jargon, tetapi bagaimana jargon “Tamansiswa bangkit!” mampu menjadi seruan perjuangan kita bersama. Saatnya kini kita menapakkan kaki pada realitas hari ini dan segera melangkah ke masa depan tanpa ragu. Buang prasangka buruk, satukan niat dan tekad dengan prasangka baik. Kita kumpulkan energi yang berserakan menjadi kekuatan bersama menuju kebangkitan Tamansiswa.
Khusus untuk pengurus Perguruan Tamansiswa Kisaran dan para pamong tidak boleh tinggal diam, pasrah dan apalagi menyerah dengan keadaan. Apapun ceritanya, panjenengan semua adalah pengemban amanah langsung untuk bagaimana menjadi leading sektor kebangkitan Tamansiswa. Rangkul para alumni dan segenap elemen masyarakat yang masih mencintai Tamansiswa. Ajak semuanya duduk bersama merumuskan ide, gagasan, perencanaan dan langkah kongret. Tak perlu lagi saling menyalahkan, apalagi berapologia. Kita butuh good will dan political will secara sekaligus yang diwujudkan ke dalam tindakan nyata, maka dari itu tak perlu berlama-lama merasa nelangsa, berkeluh kesah. Buang ego dan terbukalah (hati dan pikiran). Bangun struktur dan kultur kepedulian bersama dan rasa memiliki (handarbeni), tumbuhkan jiwa gotong royong. Tamansiswa tidak boleh mati, ia harus terus hidup sebagai warisan bagi generasi dari jaman ke jaman.
Dirgahayu dan bangkilah Tamansiswa (Kisaran), semoga senantiasa diberikan kekuatan dan jalan terang untuk meraih kembali kejayaan. Gusti Allah bersama kita. Terima kasih dan salam bahagia.
Tentang Penulis : Thoib Subhanto alias Pak Sanif, adalah alumni Taman Madya (SMA) Perguruan Tamansiswa Kisaran 1987-1990 (A3/IPS). Ketua Umum PPTS Tamansiswa Kisaran 1988-1990, Penggiat Teater Dewantara Tamansiswa Kisaran (1987-1990), Pemred Bulletin Dewantara Tamansiswa Kisaran (1987-1990). Pernah menetap di Yogyakarta dan mengabdi sebagai Dosen Sosiologi Fisip Universitas Widya Mataram Yogyakarta (1998-2012), Kini kembali dan menetap di kampung halaman Asahan, mengabdi sebagai Guru Seni Budaya di SMK Al Asri Hessa Perlompongan Air Batu Asahan, mengkoordinir Bidang Sastra di Dewan Kebudayaan Asahan dan menjadi Jurnalis di media online dialogberita.com dan mediadialognews.com.
















