DIALOG BERITA – Di ruang publik seperti café, kebisingan sering muncul bukan sekadar sebagai komunikasi, melainkan sebagai pertunjukan sosial. Orang berbicara keras, tertawa, seolah ingin menegaskan keakraban dan kegembiraan mereka di hadapan orang lain. Namun, bagi sebagian individu, riuh itu bukanlah tanda vitalitas, melainkan gangguan terhadap ruang pribadi. Kebisingan semacam itu sering kali menjadi semacam kompetisi simbolik—siapa yang paling riang, siapa yang paling akrab, siapa yang paling berhak mendominasi ruang dengan suara mereka.

Bagi yang mencari ketenangan, fenomena ini justru menimbulkan rasa muak, karena ruang publik yang seharusnya netral berubah menjadi panggung dominasi sosial. Kesunyian yang diinginkan bukanlah sekadar diam, melainkan hak untuk memiliki ruang mental yang bebas dari intervensi orang lain. Dalam konteks ini, headset dan musik menjadi alat untuk merebut kembali kendali atas diri, sebuah cara halus namun tegas untuk menolak “invasi” kebisingan.
Headset sebagai Simbol
Menggunakan headset dan musik bukan hanya tindakan praktis untuk menutup telinga dari suara luar. Secara psikologis, ia menjadi simbol perlawanan: sebuah deklarasi diam bahwa “Aku memilih duniaku sendiri, aku tidak tunduk pada riuh kalian.”
- Teori ruang pribadi (Edward T. Hall, proxemics): manusia membutuhkan jarak dan batas tertentu untuk merasa nyaman. Kebisingan publik sering melanggar batas itu.
- Musik sebagai coping mechanism: dalam psikologi, musik digunakan untuk mengatur emosi, menenangkan, atau memberi energi.
Kesunyian yang Produktif
Kesunyian bukan berarti ketiadaan. Ia justru menjadi ruang penuh makna:
- Tempat pikiran bekerja lebih jernih.
- Arena lahirnya tulisan, refleksi, dan penciptaan.
- Bentuk self-empowerment, di mana individu menegaskan kendali atas dirinya sendiri.
Dampak Kebisingan Menurut Penelitian
Penelitian psikologi menunjukkan bahwa kebisingan bukan sekadar gangguan kecil, melainkan faktor nyata yang menurunkan produktivitas:
- Penelitian di Universitas Hasanuddin (2024) menemukan bahwa mahasiswa yang terpapar suara bising mengalami penurunan kualitas dan kuantitas kerja skripsi mereka¹.
- Studi di IKesT Muhammadiyah Palembang (2022) menunjukkan bahwa pajanan kebisingan di lingkungan kerja industri berpengaruh signifikan terhadap produktivitas karyawan².
- Penelitian Universitas Negeri Semarang (2021) mencatat bahwa tenaga kerja yang terpapar kebisingan selama 8 jam per hari mengalami penurunan produktivitas, meski menggunakan pelindung telinga³.
Kutipan ini memperkuat gagasan bahwa kebisingan bukan hanya persoalan kenyamanan, melainkan juga berdampak langsung pada kualitas kerja dan kesehatan mental.
Penutup
Dalam konteks budaya, kebisingan sering dianggap tanda vitalitas. Namun, kesunyian juga memiliki nilai sakral. Seperti dalam lagu The Temple of The King, kesunyian adalah perjalanan menuju kuil batin, tempat seseorang menemukan makna lebih tinggi. Dengan demikian, tindakan sederhana memakai headset di café bisa dibaca sebagai metafora: sebuah ziarah kecil menuju ruang pribadi yang sakral.
Melawan kebisingan dengan kesunyian bukanlah pelarian, melainkan perlawanan elegan. Ia menegaskan bahwa di tengah hiruk pikuk sosial, individu tetap berhak atas ruang tenang untuk berpikir, menulis, dan menemukan dirinya. Kesunyian menjadi kuil pribadi, tempat lahirnya refleksi dan penciptaan, sekaligus simbol bahwa integritas diri lebih kuat daripada riuh dunia.
Daftar Pustaka
- Universitas Hasanuddin. (2024). Pengaruh Kebisingan terhadap Produktivitas Mahasiswa dalam Penyusunan Skripsi. Makassar: Fakultas Psikologi.
- IKesT Muhammadiyah Palembang. (2022). Analisis Dampak Kebisingan terhadap Produktivitas Karyawan di Lingkungan Industri. Palembang: Jurnal Kesehatan dan Keselamatan Kerja.
- Universitas Negeri Semarang. (2021). Hubungan Pajanan Kebisingan dengan Produktivitas Tenaga Kerja di Area Produksi. Semarang: Jurnal Psikologi Industri.
















