DIALOG BERITA, Kisaran – Dalam upaya mengatasi tantangan pembelajaran Matematika yang sering dianggap sulit dan membosankan, tim dosen Universitas Asahan melaksanakan kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PkM) di UPTD SDN 014686 Sidomulyo. Fokus kegiatan ini adalah eksplorasi pembelajaran geometri berbasis kearifan lokal menggunakan media geoboard.

Geoboard, sebuah alat bantu visual berupa papan berpaku yang dilengkapi dengan karet gelang, digunakan untuk mempermudah pemahaman konsep geometri seperti segitiga, persegi, dan jajaran genjang. Media ini dikembangkan secara inovatif dengan mengintegrasikan nilai-nilai kearifan lokal, seperti motif kain tradisional dan pola arsitektur rumah adat, ke dalam pengajaran geometri.
Program yang dimulai pada 6 Februari 2025 ini diinisiasi oleh Elfira Rahmadani, M.Pd., bersama tim dari FKIP Universitas Asahan. Mereka menghadirkan pendekatan kreatif dalam meningkatkan keterampilan spasial siswa melalui geoboard yang dirancang dari bahan sederhana, seperti papan kayu dan karet gelang—terinspirasi dari permainan tradisional lokal.
“Kami ingin menunjukkan bahwa pembelajaran geometri tidak harus bergantung pada media digital yang mahal. Dengan mengadaptasi permainan tradisional ke dalam pembelajaran, anak-anak lebih mudah memahami konsep bentuk, pola, dan ruang,” jelas Elfira Rahmadani, M.Pd., Ketua Tim Pengabdian Universitas Asahan.
Lebih dari 90 siswa dan tiga guru turut serta dalam pelatihan penggunaan geoboard. Para guru dilatih untuk mengintegrasikan media tersebut dalam pembelajaran berbasis proyek dan eksplorasi, dengan pendekatan kontekstual yang relevan dengan kehidupan sehari-hari siswa.
Kepala Sekolah UPTD SDN 014686 Sidomulyo, Supiyan, S.Pd., memberikan apresiasi terhadap inisiatif ini. “Anak-anak terlihat lebih aktif dan senang ketika belajar menggunakan geoboard. Mereka mampu membuat berbagai bentuk sambil berdiskusi dengan teman. Metode ini tidak hanya meningkatkan pemahaman geometri, tetapi juga melatih kerja sama dan keterampilan komunikasi mereka,” ujar Supiyan, S.Pd.
Hasil evaluasi sementara menunjukkan adanya peningkatan kemampuan spasial siswa, terutama dalam mengidentifikasi bentuk dua dimensi dan memahami konsep simetri. Selain itu, siswa juga menunjukkan kreativitas tinggi saat menciptakan pola-pola geometri yang terinspirasi dari cerita rakyat lokal, seperti bentuk rumah adat atau motif tenun.
“Kami menyaksikan sendiri bagaimana siswa mampu menghubungkan cerita-cerita budaya mereka dengan bentuk-bentuk geometri. Ketika pembelajaran dekat dengan identitas mereka, hasilnya jauh lebih bermakna,” tambah Masitho, S.Pd., salah satu guru kelas di UPTD SDN 014686 Sidomulyo.
Pendekatan ini juga didukung oleh berbagai studi. Mailani Saragih (2024) mencatat bahwa pendekatan berbasis kearifan lokal membantu siswa memahami penerapan bentuk-bentuk geometris dalam seni dan budaya mereka. Sementara itu, Wardani (2022) menyatakan bahwa pembelajaran berbasis pengalaman langsung dan manipulasi objek sangat efektif dalam meningkatkan keterlibatan siswa.
Dengan pendekatan ini, pendidikan dasar diharapkan mampu menjadi tempat yang tidak hanya mengajarkan angka dan bentuk, tetapi juga merawat budaya lokal dan membentuk karakter generasi muda. Program ini menjadi contoh bagaimana perpaduan metode tradisional dengan kreativitas lokal dapat memajukan pendidikan secara holistik. (Tarida Ilham Manurung)
















