DIALOG BERITA – Sebuah rekaman singkat sempat membuat jagat maya bergelagar — sekelompok emak-emak turun tangan ke lokasi judi game, berani menegur dan menantang praktik yang selama ini diselimuti seolah wajar. Dengan suara lantang dan langkah yakin, mereka seakan mewakili suara nurani yang tak tahan lagi melihat anak-anak dan remaja terseret ke dalam pusaran game beraroma judi.
Namun tak berselang lama, muncul permintaan maaf. Nada berani mendadak berubah jadi penyesalan. Entah karena tekanan, entah karena rasa takut terhadap kuasa yang tak terlihat, semua kembali reda, dan semangat lokasi itu pun kembali menyala, penuh tanya dan yang meninabobokan logika.
Di sinilah pertanyaannya,
Salah di mana sebenarnya?
Apakah pada keberanian yang dianggap lancang?
Ataukah pada sistem yang terlalu lembek menertibkan permainan berwajah judi ini?
Kebebasan “judi game zoon” seperti punya benteng sendiri, dilindungi rasa abai, dijaga oleh diamnya para pemangku, dan dirayakan oleh mereka yang untung di balik layar. Sementara itu, suara emak-emak yang mestinya jadi simbol nurani sosial, justru harus menunduk dan meminta maaf atas keberaniannya.
Ironi itu menyakitkan.
Ketika yang berani menegur harus menyesal,
dan yang seharusnya ditegur justru tetap merdeka.
Mungkin bukan judi yang menang,
melainkan pembiaran yang berjudi atas akal sehat kita semua. (**)
















